Profil Dusun Penawangan
Tentang Desa
Dusun Penawangan
Desa Penawangan terletak di Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang, merupakan wilayah seluas 235,94 Ha yang dihuni sekitar 4.000 penduduk dan terbagi ke dalam 3 dusun, 2 RW, serta 20 RT. Secara geografis, desa yang berjarak 17 km dari Universitas Ngudi Waluyo ini terletak di koordinat 110°30'27,75'' BT dan 7°08'08,02'' LS dengan ketinggian 100 hingga 300 MDPL. Batas administrasinya meliputi Desa Kawengen di sisi barat, Desa Wonorejo di selatan, Desa Candirejo di timur, serta Desa Girikusumo (Kabupaten Demak) di sebelah utara. Potensi Desa Penawangan berpusat pada eksistensi 20 unit industri mebel aktif yang menghasilkan bahan baku sekunder berupa 5-7 ton serbuk kayu setiap minggunya, serta keberadaan unit BUMDes Budidaya Lele yang strategis. Melimpahnya ketersediaan biomassa kayu dan infrastruktur kolam lele yang sudah ada membuka peluang besar untuk integrasi ekonomi sirkuler melalui inovasi produk turunan ramah lingkungan. Permasalahan yang dihadapi adalah Desa Penawangan merupakan kawasan transisi dari desa kumuh menuju ke desa bersih dengan penumpukan limbah serbuk kayu yang tidak terkelola dan stagnansi manajerial serta finansial pada BUMDes budidaya lele akibat terbatasnya kompetensi teknis dan akses pasar. Kondisi tersebut membatasi akses ekonomi masyarakat, sehingga diperlukan perbaikan tata kelola serta hilirisasi limbah agar usaha desa dapat berkelanjutan.
Geografi & Demografi
Data Wilayah
Informasi Geografis
-
Alamat:
Krajan, Penawangan, Kec. Pringapus, Kab. Semarang, Jawa Tengah 50513 -
Luas Wilayah:
235,94 Ha -
Ketinggian:
100 - 300 MDPL -
Koordinat:
110°30'27,75'' BT dan 7°08'08,02'' LS -
Jarak dari Universitas Ngudi Waluyo:
17 km
Demografi
-
Jumlah Penduduk:
± 4.000 Jiwa -
Jumlah Dusun:
3 Dusun -
Jumlah RW / RT:
2 RW / 20 RT -
Pendidikan:
TK, SD, SMP, SMA sederajat -
Mata Pencaharian:
Industri mebel, pertanian, UMKM
Batas Wilayah
Batas Administrasi
Barat
Desa Kawengen
Selatan
Desa Wonorejo
Timur
Desa Candirejo
Utara
Desa Girikusumo (Kab. Demak)
Potensi
Potensi & Permasalahan Desa
Potensi Desa
Desa Penawangan berpusat pada eksistensi 20 unit industri mebel aktif yang menghasilkan bahan baku sekunder berupa 5-7 ton serbuk kayu setiap minggunya, serta keberadaan unit BUMDes Budidaya Lele yang strategis. Melimpahnya ketersediaan biomassa kayu dan infrastruktur kolam lele yang sudah ada membuka peluang besar untuk integrasi ekonomi sirkuler melalui inovasi produk turunan ramah lingkungan.
Permasalahan
Desa Penawangan merupakan kawasan transisi dari desa kumuh menuju ke desa bersih dengan penumpukan limbah serbuk kayu yang tidak terkelola dan stagnansi manajerial serta finansial pada BUMDes budidaya lele akibat terbatasnya kompetensi teknis dan akses pasar. Kondisi tersebut membatasi akses ekonomi masyarakat, sehingga diperlukan perbaikan tata kelola serta hilirisasi limbah agar usaha desa dapat berkelanjutan.
Program
Program LIGNOMINA
Tim PPK Ormawa menghadirkan program LIGNOMINA (Limbah Kayu dan Mina) berbasis konsep ekonomi sirkular, yaitu memanfaatkan limbah sebagai sumber daya dalam sistem produksi berkelanjutan. Limbah serbuk kayu dari industri mebel diolah menjadi media tanam jamur tiram (baglog), lalu baglog bekas dimanfaatkan kembali sebagai kompos untuk sistem akuaponik lele.
Tujuan Program
Merevitalisasi ekonomi Desa Penawangan dengan mengolah minimal 30% limbah kayu mingguan menjadi media tanam jamur tiram yang terintegrasi dengan akuaponik lele.
Kebudayaan
Budaya & UMKM
Budaya
Masyarakat Desa Penawangan masih menjaga tradisi dan budaya Jawa dengan baik. Berbagai upacara adat, kesenian tradisional, dan kegiatan budaya lainnya masih dilaksanakan secara rutin. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung.
UMKM
UMKM di Desa Penawangan beragam, mulai dari produk pertanian, kerajinan tangan, makanan olahan, hingga jasa. Pengembangan UMKM menjadi salah satu fokus utama PPKO Lignomina untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.